PAPER EKONOMI SUMBERDAYA HUTAN

Paper Ekonomi Sumberdaya Hutan                                                                                        Medan,  Maret  2021

PEMANFAATAN TANAMAN MURBEI SEBAGAI EKONOMI SUMBERDAYA HUTAN

Dosen Penanggung Jawab:
Dr. Agus Purwoko, S.Hut, M.Si.

 

Disusun oleh :

Anderson Sitorus

191201178

HUT 4A




PROGRAM STUDI KEHUTANAN

FAKULTAS KEHUTANAN

UNIVERSITAS SUMATERA UTARA

MEDAN

2021



KATA PENGANTAR

Puji dan syukur praktikan ucapkan kehadirat Tuhan Yang Maha Esa atas berkat dan rahmat-Nya penulis dapat menyelesaikan Paper Ekonomi Sumberdaya Hutan ini dengan judul “Pemanfaatan Tanaman Murbei Sebagai Ekonomi Sumberdaya Hutan”. Pada kesempatan ini penulis mengucapkan terima kasih kepada pihak pihak yang membantu penulis dalam penyelesaian paper ini, diantaranya Dosen penanggung jawab Bapak Dr. Agus Purwoko, S.Hut, MSi dan pihak-pihak yang membantu dalam penyelesaian Paper ini.

            Penulis juga menyadari masih terdapat banyak kekurangan dalam penulisan Paper ini. Oleh karena itu, penulis mengharapkan kritik dan saran dari para pembaca demi kesempurnaan Paper ini. Semoga Paper ini memberikan banyak manfaat kepada para pembaca.

 

                                

            Medan,     Maret 2021

                                                                                                                                            

                                                                                                                                                Penulis

 

 


                                        

     BAB I

       PENDAHULUAN

1.1    Latar Belakang

        Hutan merupakan bagian integral dan tidak terpisahkan dari kehidupan masyarakat yang hidup di sekitarnya. Hubungan interaksi antara masyarakat desa hutan dengan lingkungan alam sekitarnya telah berlangsung selama berabad-abad lamanya secara lintas generasi dalam bingkai keseimbangan kosmos. Pengelolaan dan pemanfaatan sumberdaya hutan di setiap masyarakat desa hutan mempunyai ciri khas tersendiri (local spesific) sesuai dengan karakteristik budaya masyarakat yang tinggal di dalam dan sekitar hutan.

    Ekonomi Sumberdaya Hutan adalah suatu bidang penerapan alat-alat analisis ekonomi terhadap persoalan produksi, permintaan, penawaran, biaya produksi, penentuan harga termasuk dalam kajian ekonomi mikro dan masalah kesejahteraan masyarakat (kesempatan kerja, pendapatan produk domestik dan pertumbuhan ekonomi) yang termasuk dalam kajian ekonomi makro. Kajian ekonomi mikro dalam ekonomi SDH untuk menjawab barang dan jasa hasil hutan apa yang diproduksi sehingga dapat menguntungkan unit usaha (bisnis) sebagai pelaku usaha, sedangkan kajian ekonomi makro akan menjawab bagaimana sumberdaya hutan dimanfaatkan untuk sebesarbesar kemakmuran rakyat dalam pengertian bahwa sumberdaaya hutan telah memberikan kontribusi bagi tersedianya lapangan kerja, meningkatkan pendapatan masyarakat dan memberikan jasa perlindungan lingkungan bagi semua masyarakat.

        Menurut Peraturan Menteri Kehutanan No.P.35/MenhutII/2007 tentang HHBK, bahwa tanaman murbei merupakan salah satu jenis Hasil Hutan Bukan Kayu (HHBK). Tanaman murbei hanya dikenal masyarakat sebagai pakan ulat sutera. Namun, atas perkembangan teknologi dan penelitian menunjukkan bahwa tanaman murbei ternyata memiliki ragam manfaat baik sebagai bahan pangan, obat-obatan/kesehatan dan lingkungan. Tanaman murbei dapat tumbuh optimal pada ketinggian 400 - 800 meter di atas permukaan laut, dengan suhu udara rata-rata 24 - 28°C dan kelembaban udara antara 65-80%. Kondisi curah hujan optimal bagi tanaman murbei antara 1.500 - 2.500 mm, dan akan tumbuh baik pada daerah yang sepanjang tahun mendapat curah hujan merata. Kondisi tanah optimal bagi tanaman murbei adalah pH antara  6,2 - 6,8 dengan solum tanah tebal dan tekstur geluh berlempung-geluh serta kondisi drainase yang baik (Balai Persuteraan Alam, 2007).

        Tanaman murbei mudah dibudidayakan serta pemeliharaannya tidak rumit, sehingga dapat diusahakan oleh masyarakat baik di sekitar rumah, kebun maupun di pinggir sawah. Selain itu, tanaman murbei dapat ditanam secara monokultur dan tumpangsari dengan tanaman lain dengan syarat tidak ternaungi. Selama ini, belum banyak dieksplor tentang manfaatnya dalam berbagai bidang seperti pangan, kesehatan dan konservasi lingkungan. Untuk itu, tulisan ini mengulas tentang ragam manfaat tanaman murbei mulai dari akar, batang, daun dan buahnya pada bidang pangan, ternak, kesehatan dan lingkungan.


1.2  Rumusan Masalah

  1.  Apa yang dimaksud dengan hutan, sumberdaya hutan, dan manfaat hutan?
  2. Apa saja karakteristik Tanaman Murbei ?
  3. Bagaimana Tanaman Murbei ?

1.3  Tujuan Masalah

  1.  Untuk mengetahui apa itu  hutan, sumberdaya alam hutan, dan manfaat hutan
  2. Untuk mengetahui  karakteristik Tanaman Murbei
  3. Untuk mengetahui pemanfaatan  Tanaman Murbei


 

 

 

BAB II

ISI


2.1    Hutan, Sumberdaya Hutan, dan Manfaat Hutan


Menurut Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 41 tahun 1999, hutan adalah suatu kesatuan ekosistem berupa hamparan lahan berisi sumber daya hayati yang didominasi pepohonan dalam persekutuan alam lingkungannya, yang satu dengan lainnya tidak dapat dipisahkan. Berdasarkan fungsinya hutan dibagi menjadi tiga kelompok yaitu hutan lindung, hutan produksi dan hutan konservasi. Keberadaan hutan menjadi potensi sumber daya alam yang menguntungkan bagi devisa negara. Di samping itu hutan memiliki aneka fungsi yang berdampak positif terhadap kelangsungan kehidupan manusia. Secara tidak langsung, fungsi hutan antara lain penghasil oksigen (O2), penyerap karbondioksida (CO2), penyimpan air, memiliki jenis kekayaan dari berbagai flora dan fauna, mencegah erosi dan tanah longsor, dan memberikan sumbangan alam yang cukup besar bagi devisa negara terutama di bidang industri.

Sumber daya hutan dimaknai sebagai sumberdaya alam yang memiliki nilai ekonomi, religius, politik, sosial dan budaya. Oleh karena itu, kelangsungan hidup dari masyarakat dan hutan sangat tergantung dari ketersediaan sumberdaya hutan yang ada di sekitar lingkungannya.

Hutan merupakan sumberdaya alam yang memberikan manfaat besar bagi kesejahteraan manusia, baik manfaat tangible yang dirasakan secara langsung, maupun intangible yang dirasakan secara tidak langsung. Manfaat langsung seperti penyediaan kayu, satwa, dan hasil tambang. Sedangkan manfaat tidak langsung seperti manfaat rekreasi, perlindungan dan pengaturan tata air, pencegahan erosi. Keberadaan hutan, dalam hal ini daya dukung hutan terhadap segala aspek kehidupan manusia, satwa dan tumbuhan sangat ditentukan pada tinggi rendahnya kesadaran manusia akan arti penting hutan di dalam pemanfaatan dan pengelolaan hutan.

2.2    Karakteristik Tanaman Murbei

    Murbei tergolong ke dalam divisio spermatophyta, sub divisio  angiospermae, kelas urticales, famili moraceae, genus morus serta spesies mo rus sp. Menurut Balai Persuteraan Alam (2007) tanaman murbei memiliki beberapa nama daerah antara lain: walot (Sunda), malur (Batak), nagas (Ambon) dan t a m b a r a m e rica (Makassar). Selain itu juga memiliki nama asing antara lain: mulberry (Inggris), Sangye (Cina), morera/mora (Spanyol), moreira (Portugis) dan Murier (Prancis). Perkembangbiakan tanaman murbei dapat dilakukan dengan dua cara yaitu generatif (biji) dan vegetatif (bagian tanaman). Di Indonesia cara memperbanyak tanaman murbei yang umum digunakan adalah vegetatif (menggunakan bagian tanaman). Cara ini biasanya lebih praktis dan ekonomis, sehingga tidak membutuhkan keahlian khusus. Beberapa teknik perbanyakan secara vegetatif yang dapat digunakan antara lain: okulasi (menempelkan mata tunas) layerin g (membengkokkan cabang tanaman ke tanah) dengan bagian tengah ditimbun, suetsugi grafting (sambungan pangkal hidup), root grafting (okulasi pangkal lepas) dan stek batang. Stek batang yang paling umum dilakukan masyarakat karena cara ini dinilai paling mudah dilaksanakan dan ekonomis.   Murbei merupakan tanaman perdu,  tingginya dapat mencapai 6 meter, tajuk jarang, cabang banyak, daun warna hijau tua dengan  berbagai bentuk antara lain berlekuk, bulat, bergerigi serta memiliki permukaan yang kasar atau halus tergantung pada jenis tanaman murbeinya.

        Di Indonesia terdapat beberapa jenis tanaman murbei yang banyak dikembangkan oleh masyarakat yaitu Morus alba , M . nigra , M . cathayana , M . australis dan M . macraura (Balai Persuteraan Alam, 2007). Khusus di Sulawesi Selatan, pada beberapa wilayah sentra pengembangan persuteraan alam seperti Kabupaten Enrekang umumnya masyarakat menanam jenis M. indica yang berdaun lebar sedangkan di Kabupaten Soppeng umumnya menanam M . alba , M. multicaulis dan M. nigra (Nurhaedah et al ., 2012). Hal ini mendorong Balai Penelitian Kehutanan Makassar untuk melakukan penelitian pemuliaan tanaman murbei jenis NI (persilangan antara jenis M. nigra dan M. indica ) dan AsI (persilangan M. australis dan M. indica ). Jenis ini memiliki keunggulan dalam hal produksi daun (NI 305,86 gr/tanaman, AsI 292,52 gr/tanaman) dan kandungan nutrisi (Santoso, 2000). Tanaman murbei  telah dimanfaatkan oleh sebagian masyarakat di Kabupaten Enrekang sebagai pakan ulat sutera dan pakan ternak.   Menurut Soekardi (2015) daun murbei (tanpa menyebut varietas) mengandung zat kimia seperti inokosterone, ecdysterone, lupeol, betasitosterol, rutin, moracetin, cholin, adenin, asam amino, coppre, zink, vitamin, asam klotogenik, asam folat, mioinositol, phytoestrogens, acetone, butylamine dan trigonelline. Hal ini menunjang untuk berbagai pemanfaatan.


2.3    Pemanfaatan Tanaman Murbei

       Pengetahuan masyarakat masih sangat terbatas tentang manfaat tanaman murbei.  Saat ini, sebagian besar masyarakat mengenal tanaman murbei sebagai pakan ulat sutera. Sebagai pakan satu-satunya bagi ulat sutera, tanaman murbei dapat memberikan nilai ekonomi secara tidak langsung dari harga kokon maupun benang ulat sutera yang dihasilkan.  Namun, selain sebagai pakan ulat sutera, tanaman murbei juga memiliki manfaat lain. Berikut beberapa manfaat dari tanaman murbei yaitu:  
 
a.    Pakan Ulat Sutera  
       Tanaman murbei merupakan satu-satunya pakan bagi ulat sutera. Hasil dari budidaya ulat sutera berupa kokon dapat langsung dipasarkan atau dapat juga diolah menjadi benang sutera sebagai bahan untuk pembuatan kain sutera. Budidaya ulat sutera dapat memberikan hasil berupa kokon dalam waktu kurang lebih satu bulan. Budidaya ulat sutera merupakan usaha yang potensial, mengingat kebutuhan benang nasional belum dapat dipenuhi dari produksi dalam negeri. Harga kokon dan benang juga cenderung membaik yaitu kokon berkisar Rp.40.000-Rp.50.000/kg dan benang Rp.450.000-550.000/kg sehingga dapat menjadi motivasi bagi masyarakat untuk mengembangkan usaha ini (Nurhaedah e t al ., 2015). Meskipun sebagian besar masyarakat, menggeluti usaha ini sebagai usaha sambilan, namun terdapat pula petani sutera yang menyekolahkan anak dan berhaji dari hasil budidaya murbei dan ulat sutera. 
 
b.    Pakan Ternak Ruminansia  
       Ternak ruminansia merupakan salah satu ternak yang memiliki sistem pencernaan yang kompleks dibandingkan ternak lain. Hal ini  terlihat dari kemampuan ruminansia dalam memproduksi protein mikroba dalam rumen. Dimana protein mikroba berperan  besar terhadap ketersediaan total protein yang tersedia bagi ternak yang akan dimanfaatkan untuk kebutuhan ternak itu sendiri (Nugroho, 2013).  Salah satu faktor pembatas dalam produktivitas ternak ruminansia adalah tidak terpenuhinya kebutuhan nutrien protein oleh ternak bersangkutan. Untuk memenuhi hal tersebut tentunya diperlukan tambahan dana, sehingga para peternak dapat menggunakan tanaman murbei yang dapat tumbuh sepanjang tahun dan cocok dengan iklim tropis. Hal tersebut dapat memberikan peluang kepada petani untuk mendapatkan produksi ternak yang lebih tinggi dengan sumberdaya tanaman murbei yang dimiliki. Hal ini sejalan dengan pendapat Yulistiani (2012) bahwa hijauan murbei mempunyai nilai nutrisi yang  tinggi dalam kemampuannya mensuplai Fermentable energi dan protein sehingga dapat meningkatkan kecernaan pakan dasar berkualitas rendah yang berasal dari limbah pertanian. Hijauan murbei dapat menggantikan bahan pakan konsentrat yang umumnya mahal harganya. Suplementasi hijauan murbei pada pakan domba maupun kambing dapat meningkatkan kenaikan bobot badan harian domba maupun meningkatkan produksi susu kambing (Hidayat, 2015).

c.    Bahan untuk Pembuatan Panganan  
       Daun murbei juga dapat diolah sebagai panganan sehari-hari berupa keripik/peye’ daun murbei. Panganan ini selain murah, mudah diusahakan juga memiliki nilai gizi yang tinggi. Satu lembar daun murbei dapat diolah menjadi satu buah peye’ atau keripik. Ukuran panganan tergantung pada ukuran daun murbei, sehingga jenis daun murbei juga menentukan ukuran dan kandungan gizi panganan yang diproduksi. Jika menggunakan daun murbei jenis Morus multicaulis dan M. indica , maka akan menghasilkan panganan yang berukuran lebar dibandingkan dengan murbei jenis M. nigra , M . alba dan M. k hunpai . Hasil pengamatan Nurhaedah e t al. (2015) menunjukkan bahwa tanaman murbei jenis M. indica yang ditanam di Kabupaten Gowa memiliki kandungan air 73.5%, protein 13.5%, karbohidrat 7.2% dan kalsium 1.5%. Sedangkan M. khunpai  kandungan air 70.6%, protein 14.0, karbohidrat 8.1% dan kalsium 2.3%.  Buah murbei juga memiliki citarasa yang manis menyerupai anggur dengan warna merah pada saat mulai matang dan ungu saat matang optimal. Buah anggur dapat diolah menjadi minuman yang segar dan menyehatkan. 
 
d.    Minuman Kesehatan  
       Minuman kesehatan di Indonesia yang umum antara lain jamu, wedang jahe dan teh. Minuman teh adalah minuman yang dibuat dari seduhan daun atau pucuk tanaman teh ( Camellia sinensis ). Namun saat ini minuman teh tidak hanya berasal dari tanaman teh melainkan dari buah-buahan, rempah-rempah, dan daun tanaman lain. Salah satu tanaman yang dijadikan minuman teh adalah daun murbei.  Teh dari murbei, banyak mengandung zat-zat yang berguna bagi tubuh. Damayanthi et al . (2007) mengemukakan bahwa kandungan senyawa polyhydroxylated alkaloids , salah satunya yaitu 1 - Deoxynojirimycin berfungsi sebagai anti dia betesmelitus. Selain manfaat tersebut, teh murbei juga dapat menjaga kesehatan ginjal,  menjaga stamina, mencegah stroke, menormalkan tekanan darah, menyeimbangkan berat badan, membantu menghilangkan panas dalam dan susah buang air besar (Firman, 2013).  Minuman teh murbei telah diproduksi dan dipasarkan secara komersial. Beberapa diantaranya sudah dapat ditemukan di pasaran maupun di apotek. Kegunaan daun murbei sebagai minuman kesehatan dapat menambah nilai guna bagi petani murbei yang selama ini hanya memanfaatkan tanaman murbei sebagai pakan ulat sutera.  
 
e.    Tanaman Obat (farmakologi)  
       Saat ini penggunaan obat-obatan dari tumbuhan atau herbal sudah banyak dilakukan oleh masyarakat. Penggunaan tanaman murbei sebagai obat-obatan belum banyak diketahui masyarakat. Padahal tanaman murbei termasuk tanaman yang mudah dikembangkan terutama di daerah tropis seperti Indonesia. Dewasa ini, masyarakat cenderung memilih obat alternatif yang harganya relatif murah dibanding obat sintetik. Menurut Miladiyah et al. (2003) penggunaan obat tradisional dari tanaman alam merupakan salah satu alternatif pilihan dalam pengobatan misalnya penggunaan tanaman murbei ( M orus a lba L. ) sebagai penurun kadar glukosa darah. Selanjutnya daun murbei  dapat digunakan untuk mengobati hipertensi, hiperkolesterol dan gangguan pada saluran pencernaan (Dalimartha, 2000). 

       Tanaman murbei, juga banyak dimanfaatkan sebagai Tanaman Obat Keluarga (TOGA). Beberapa bagian tanaman murbei yang digunakan sebagai obat herbal antara lain (kerjasantaidirumah, 2011):

1. Akar  
       Kulit akar tanaman murbei bermanfaat untuk obat asma, muka bengkak, nyeri saat kencing dan sakit gigi. 

2. Batang/ranting
      Ranting tanaman murbei berguna untuk mengobati rematik, sakit pinggang, kram dan menyuburkan rambut. D r . S e tia w a n Dalimartha, pendiri Himpunan Pengobatan Tradisional dan Akupunktur Republik Indonesia, dalam bukunya A tla s T u mbuhan Obat Indonesia , menyebutkan bahwa ada dua cara pemakaian yaitu untuk diminum dan untuk obat luar.  

3. Daun
       Daun murbei dapat digunakan untuk obat tradisional darah tinggi sebab mempunyai kandungan polifenol, flavonoida, dan alkaloida. Selain itu, juga bermanfaat untuk mengobati demam, flu, malaria, batuk, diabetes melitus, rematik, anemia, dan memperbanyak keluarnya ASI. Teknik penggunaan daun murbei sebagai obat tradisional darah tinggi, dapat dilakukan dengan cara: daun murbei sebanyak ±15 g dicuci bersih. Setelah bersih, kemudian daun direbus dengan air sebanyak tiga gelas, selama 20 menit. Setelah  itu air rebusan didinginkan, lalu disaring hingga menjadi dua gelas. Air rebusan diminum  pada pagi dan sore hari. Untuk pemakaian luar khususnya untuk mengobati luka, digigit ular, penyubur rambut, dapat dilakukan dengan mengambil daun yang masih segar, lalu dilumat sampai halus dan ditempelkan pada bagian kulit yang sakit (kerjasantaidirumah, 2011).  

4. Buah   
    Buah tanaman murbei bermanfaat untuk memperkuat ginjal, meningkatkan sirkulasi darah, mengatasi insomnia (sulit tidur), batuk berdahak, sembelit, sakit tenggorokan, sakit otot dan kurang darah. Buah murbei, juga dapat diolah menjadi minuman segar atau jus serta dapat dikomsumsi langsung sebagaimana lazimnya buahbuahan lain. Berikut gambar buah tanaman murbei yang sudah matang dan daun murbei. 


f.    Tanaman Konservasi  
       Tanaman murbei adalah tanaman keras dan memiliki perakaran yang dalam  Atmosoedarjo e t al . (2000), hal tersebut memungkinkan untuk digunakan sebagai tanaman konservasi misalnya memperkuat teras terutama pada lahan yang miring. Perakaran tanaman murbei yang kuat perlu diperhatikan sehingga pada saat penyiapan lahan, tanahnya harus dicangkul lebih dalam atau dibuat rorak atau lubang yang dalam (kurang lebih 50 cm). 



BAB III
PENUTUP

KESIMPULAN

1. Sumber daya hutan dimaknai sebagai sumberdaya alam yang memiliki nilai ekonomi, religius,politik,sosial dan budaya.

2. Hutan merupakan sumberdaya alam yang memberikan manfaat besar bagi kesmanusia,baik manfaat tangible yang dirasakan secara langsung, maupun intangible yang dirasakan secara tidak langsung.

3.  Tanaman murbei merupakan salah satu hasil hutan bukan kayu (HHBK) yang multi-manfaat. Tanaman murbei dapat tumbuh pada lahan-lahan marginal baik di halaman atau di kebun asalkan mendapat cahaya    matahari yang cukup.

4.   Selain sebagai pakan ulat sutera, tanaman murbei juga dapat dimanfaatkan sebagai tanaman pangan, pakan
ternak, obat-obatan dan konservasi, sehingga memberikan nilai manfaat sosial dan ekonomi bagi    masyarakat. Manfaat tersebut perlu disosialisasikan kepada masyarakat sehingga tanaman murbei yang ada dapat dimanfaatkan secara optimal.

5. Ternak ruminansia merupakan salah satu ternak yang memiliki sistem pencernaan yang kompleks dibandingkan ternak lain. Hal ini  terlihat dari kemampuan ruminansia dalam memproduksi protein mikroba dalam rumen. Dimana protein mikroba berperan  besar terhadap ketersediaan total protein yang tersedia bagi ternak yang akan dimanfaatkan untuk kebutuhan ternak itu sendiri.

6. Murbei tergolong ke dalam divisio spermatophyta, sub divisio  angiospermae, kelas urticales, famili moraceae, genus morus serta spesies mo rus sp. Menurut Balai Persuteraan Alam (2007) tanaman murbei memiliki beberapa nama daerah antara lain: walot (Sunda), malur (Batak), nagas (Ambon) dan t a m b a r a m e rica (Makassar). Selain itu juga memiliki nama asing antara lain: mulberry (Inggris), Sangye (Cina), morera/mora (Spanyol), moreira (Portugis) dan Murier (Prancis).






DAFTAR PUSTAKA

Damayatanti PT. 2011. Upaya Pelestarian Hutan Melalui Pengelolaan Sumber Daya Hutan Bersama Masyarakat. Jurnal Komunitas, 3(1) : 70-82.

Damayanthi, E., Kusharto. CM., Suprahatini. M., Rohdiana. D. 2007. Diversifikasi Produk Teh Sebagai minuman Kesehatan. http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/7102. Akses tanggal 1109-2015. jam 15.10. 

Hidayat, F,. 2015. Pemanfaatan tanaman daun murbei sebagai pakan ternak ruminansia. Seminar studi pustaka. Fakultas Peternakan. Universitas Hasanuddin. http://fadlyhidayatilyas.blogspot.co.id/. Diakses 26 Desember 2015.

Kerjasantaidirumah. 2011. www. gayabunda.com/kesehatan/manfaat buah murbei, 2011. Daun Murbei. Diunggah Maret 2015.

Menteri Kehutanan. 2007. Peraturan Menteri Kehutanan No.P.35/MenhutII/2007 tentang Hasil Hutan Bukan Kayu.

Nurhaedah. 2012. Kondisi budidaya murbei dan ulat sutera di daerah dataran rendah Kabupaten Soppeng. Prosiding Seminar Hasil-hasil Penelitian Balai Penelitian Kehutanan Makassar. Peran Iptek dalam Pembangunan Kehutanan dan Kesejahteraan masyarakat di Wilayah Wallacea.

Nurhaedah, Suryanto, H., Minarningsih. 2015. Ujicoba hibrid Morus khunpai dan M . indica sebagai pakan ulat sutera ( Bombyx mori . Linn) Jurnal Penelitian Kehutanan Wallacea 4 (2): 137-145. Balai Penelitian Kehutanan Makassar.

Nurhaedah, Hayati N., Zainuddin, Andarias dan Hermawan, A. 2015. Model Pengelolaan Persuteraan Alam. Laporan Perjalanan Dinas. Balai Penelitian Kehutanan Makassar. 

Santoso, 2000. Produksi dan kandungan nutrisi daun beberapa varietas murbei. Buletin Penelitian Kehutanan 6(2):48-57. Balai Penelitian Kehutanan Ujung Pandang.

Yulistiani, D. 2012. Tanaman murbei sebagai sumber protein hijauan pakan domba dan kambing. Wartazoa 22 (1): 46-52. Balai Penelitian Ternak.Bogor

Komentar

Posting Komentar