Blog Jasa Hutan Kota dan Ekotourism
Laporan Praktikum
Ekonomi Sumber Daya Hutan Medan,
Mei 2021
JASA HUTAN KOTA DAN ECOTOURISM
Dosen
Penanggung Jawab :
Dr.
Agus Purwoko, S.Hut., M.Si
Disusun
Oleh :
Manda Rizky Abdillah 191201010
Anderson Sitorus
191201178
Huga Petrus Christivani Ginting 191201179
Ahmad Hisyam Pulungan 191201180
Shafira Chairunnisa Chery 191201184
Royhana Rahbi Rangkuti 191201186
Kelompok 8
HUT
4A
PROGRAM STUDI
KEHUTANAN
FAKULTAS KEHUTANAN
UNIVERSITAS SUMATERA
UTARA
MEDAN
2021
KATA PENGANTAR
Puji syukur saya
panjatkan kepada Tuhan yang Maha Esa,
karena atas berkat dan kasih karunia-Nya penulis dapat menyelesaikan
Laporan Praktikum Ekonomi Sumber Daya Hutan ini dengan baik yang berjudul ”Jasa
Hutan Kota dan Ecotourism” ini dimaksudkan untuk memenuhi tugas Praktikum
Ekonomi Sumber Daya Hutan pada Program Studi Kehutanan, Fakultas Kehutanan,
Universitas Sumatera Utara.
Penulis mengucapkan
terima kasih kepada dosen penanggungjawab Praktikum Ekonomi Sumber Daya Hutan
yaitu bapak Dr. Agus Purwoko, S.Hut.,
M.Si karena telah memberikan materi dengan baik dan benar. Penulis
juga mengucapkan terima kasih kepada asisten yang telah memberikan bimbingan
dan arahan selama penulis mengikuti kegiatan praktikum ini.
Penulis menyadari bahwa laporan ini masih jauh dari
kesempurnaan baik dari materi maupun
teknik penyajiannya, mengingat kurangnya pengetahuan dan pengalaman penulis. Oleh karena itu, saran dan kritik dari berbagai
pihak dalam upaya untuk memperbaiki isi makalah ini akan sangat penulis hargai. Semoga tulisan ini bermanfaat bagi siapapun yang membacanya.
Medan, Mei 2021
Penulis
DAFTAR ISI
Halaman
KATA PENGANTAR................................................................................... i
DAFTAR
ISI.................................................................................................. ii
DAFTAR TABEL.......................................................................................... iii
PENDAHULUAN
Latar Belakang.......................................................................................... 1
Tujuan........................................................................................................ 2
TINJAUAN PUSTAKA
METODE PRAKTIKUM
Waktu dan Tempat.................................................................................... 6
Bahan dan Alat......................................................................................... 6
Prosedur
Praktikum................................................................................... 6
HASIL DAN PEMBAHASAN
Hasil.......................................................................................................... 7
Pembahasan............................................................................................... 7
KESIMPULAN DAN SARAN
Kesimpulan................................................................................................ 11
Saran.......................................................................................................... 11
DAFTAR PUSTAKA
DAFTAR TABEL
No. Teks Halaman
1 Data Hutan Kota yang Dikunjungi atau Dijadikan Contoh………... 7
PENDAHULUAN
Latar
Belakang
Hutan dan kota adalah dua kutub isu yang selalu
menggeliat di dalam fenomena pembangunan dewasa ini, karena hutan mempunyai
ekspresi ke arah konservasi, sedangkan kota ke arah ekspansi. Keduanya ternyata
merentangkan benang merah dalam pembangunan secara berkesinambungan, antara
jawaban atas tuntutan dan tantangan ruang, terhadap waktu yang dihadapi.
Meningkatnya jumlah penduduk, serta beban-beban pembangunan wilayah termasuk di
dalamnya tumbuh berkembangnya pemukiman, industri dan pusat-pusat kegiatan
kota, cenderung menimbulkan dampak negatif bagi masyarakat perkotaan itu
sendiri, akibat semakin meningkatnya lingkungan fisik kritis perkotaan. Wilayah
perkotaan di Indonesia, terutama kota-kota pantai seperti Jakarta, Surabaya,
Semarang, dan Ujung Pandang, dicirikan oleh tiga kriteria yaitu: (a)
terdegradasinya wilayah daratan dalam bentuk zona (region) wilayah “intrusi air
laut”; wilayah “pengendapan” dan wilayah “kikisan”; (b) meningkatnya spot-spot
panas kota, dan (c) semakin terdesaknya kawasan hijau akibat lajunya
pertumbuhan wilayah perkotaan (Wahyuni, 2011).
Kesadaran Pemerintah
terhadap Lingkungan Fisik Kritis (LFK) dan kecenderungannya, melalui berbagai
upaya telah dilakukan sejak tahun 1980-an. Langkah awal yang dilakukan, antara
lain, diefektifkannya peranan institusi sektor hijau (Dinas Teknis Pekerjaan
Umum dan Kehutanan) untuk menangani secara langsung dengan membangun dan
mengelola kawasan hijau binaan dalam wujud “hutan kota”. Niat tersebut muncul
atas dasar pertimbangan (a) peran, fungsi dan jasa biologis pepohonan, yang
terbukti dan mampu melerai serta mengendalikan berbagai bentuk pencemaran dan
sumbersumber penyebabnya, karena komunitas tumbuhan hutan kota dapat berfungsi
sebagai paru-paru kota, (b) keterbatasan aset Pemda dalam hal penguasaan
terhadap tanah akibat semakin meningkatnya harga tanah, (c) meningkatnya jumlah
kendaraan bermotor dan tumbuh berkembangnya wilayah industri (sumber cemaran
lingkungan), serta (d) meningkatnya jumlah penduduk dan tumbuh berkembangnya
wilayah pemukiman, yang cenderung mendambakan kenyamanan lingkungan hidupnya (Wahyuni
dkk., 2017).
Tujuan
Adapun tujuan dari Praktikum Ekonomi Sumber Daya Hutan yang berjudul
“Jasa Hutan Kota dan Ecotourism” ini adalah untuk mengetahui jasa dari hutan
kota dan ecotourism.
TINJAUAN PUSTAKA
Hutan kota adalah suatu
komunitas vegetasi yang berupa pepohonan yang tumbuh di lahan perkotaan atau
sekitarnya, berbentuk jalur, menyebar atau bergerombol (menumpuk) memberikan
suatu struktur yang menyerupai hutan alam, dan membentuk habitat yang
memungkinkan adanya kehidupan bagi satwa. PP No. 63 tahun 2002 tentang Hutan
Kota menyebutkan bahwa fungsi hutan kota antara lain untuk memperbaiki dan
menjaga iklim mikro, meresapkan air, menciptakan keseimbangan dan keserasian
lingkungan fisik kota, dan mendukung pelestarian plasma nutfah. Keberadaan
hutan kota sangat penting untuk dipertahankan di saat maraknya pembangunan
lahan hijau menjadi lahan terbangun. Dalam rentang waktu 31 tahun, dari tahun
1982 sampai tahun 2013, terjadi penurunan luas Ruang Terbuka Hijau di Jakarta
sekitar 1,8% per tahun. Berkurangnya 10-50% luas Ruang Terbuka Hijau akan
menaikkan suhu udara 0,2–1,8°C dan sebaliknya, bertambahnya luas Ruang Terbuka
Hijau sebanyak 10-50% menurunkan suhu udara 0,1-0,5°C. Namun, hutan kota sering
dianggap tidak menghasilkan nilai ekonomi (Rahayu, 2020).
Hutan kota merupakan suatu kawasan dalam kota yang
didominasi oleh pepohonan yang habitatnya dibiarkan tumbuh secara alami.
Pengertian alami disini bukan berarti hutan yang tumbuh menjadi hutan besar
atau rimba melainkan tidak terlalu diatur seperti taman. Lokasi hutan kota
umumnya di daerah pinggiran. Ini dimungkinkan karena kebutuhan lokasi pemukiman
atau perkantoran daerah tersebut tidak terlalu besar. Hutan kota dibuat sebagai
daerah penyangga kebutuhan air, lingkungan alami, serta pelindung flora dan
fauna di perkotaan. Secara fisik, pembangunan hutan kota di lingkungan
perkotaan tujuannya untuk memudahkan masyarakat yang tinggal di lingkungan
perkotaan untuk menjalani kehidupannya. Meski demikian, dengan makin banyaknya
pembangunan, keberadaan ruang terbuka
hijau sangat terbatas dan sangat
berpengaruh terhadap ketidakseimbangan dari ekosistem, misalnya resapan air
yang tak berfungsi, terjadinya kekeringan di musim kemarau, serta makin
banyaknya polusi udara. Dengan demikian, kondisi tersebut sangat tidak membuat
nyaman masyarakat (Helianto dkk., 2016).
Alam menjaga kualitas
lingkungan serta kehidupan dari masyarakat perkotaan, hadirnya hutan kota ini
tentunya juga memiliki manfaat yang besar untuk meningkatkan kualitas
lingkungan serta kehidupan masyarakat perkotaan. Manfaat-manfaat yang bisa
dirasakan oleh masyarakat diantaranya : Manfaat Estetika, Lingkungan perkotaan
yang banyak ditumbuhi oleh berbagai tumbuhan tentu akan memberikan nilai
keindahan yang didapat dari hijaunya hutan. Hutan kota yang dibuat dengan
beraneka ragam bentuk tanaman yang berpadu pada suatu pemandangan yang pastinya
menyejukkan dan memanjakan mata. Manfaat Ekologis, Masyarakat akan menikmati
lingkungan yang serasi antara tumbuhan, hewan, dan manusia. Apabila hutan kota
memiliki kondisi yang cukup baik maka banyak burung yang menjadikan hutan ini
sebagai habitat hidupnya, tentu saja hal ini sangat baik untuk keseimbangan
eksosistem di perkotaan. Manfaat Klimatologi, Masyarakat akan merasakan suatu
iklim yang sifatnya mikro seperti misalnya tingkat kelembaban udara, suhu
udara, serta curah hujan yang akan menambah kesejukan (Alfian dkk., 2017).
Ekowisata merupakan
bentuk pariwisata yang memanfaatkan potensi sumberdaya alam, lingkungan serta
keunikan alam dan budaya yang dapat menjadi salah satu sektor
unggulan daerah yang belum dikembangkan secara optimal dan ekowisata juga
merupakan kegiatan wisata alam dengan memperhatikan unsur pendidikan, pemahaman
dan dukungan terhadap usaha-usaha konservasi sumber daya alam, serta
peningkatan pendapatan masyarakat lokal. Secara umum objek kegiatan ekowisata
tidak jauh berbeda dari kegiatan wisata alam biasa, namun memiliki nilai-nilai
moral dan tanggung jawab yang tinggi terhadap objek wisatanya seperti wisata
pemandangan, wisata petualangan, wisata kebudayaan dan sejarah, wisata
penelitian serta wisata sosial, konservasi terhadap lingkungan dan juga
pendidikan (Unud, 2015).
METODE PRAKTIKUM
Waktu dan Tempat
Praktikum Ekonomi Sumber Daya Hutan yang berjudul “Jasa Hutan Kota Dan
Ecotourism”
dilaksanakan pada hari Kamis, 6 Mei 2021 pada pukul 10:00 WIB
sampai dengan selesai. Praktikum ini dilaksanakan dirumah masing-masing
praktikan via Google Classroom, WhatsApp
Grup dan Zoom.
Alat dan Bahan
Alat yang digunakan dalam praktikum ini adalah Laptop, Alat Tulis dan Handphone.
Bahan
yang digunakan pada praktikum ini adalah Buku Tulis.
Prosedur Praktikum
1.
Disiapkan alat dan bahan
2.
Dijelaskan mengenai Jasa Hutan Kota Dan Ecoutorism
3.
Dibuat resume
4.
Dibuat vlog mengenai hutan kota
5.
Dibuat laporan
HASIL DAN PEMBAHASAN
Hasil
Adapun hasil yang diperoleh pada praktikum Ekonomi Sumber Daya Hutan yang
berjudul “Jasa Hutan Kota dan Ecotourism” ini adalah sebagai berikut:
Tabel 1. Data Hutan Kota yang Dikunjungi atau
Dijadikan Contoh
|
No. |
Anggota Kelompok |
Hutan Kota |
Gambar |
|
1. |
Manda Rizky
Abdillah Anderson
Sitorus Huga Petrus
C. Ginting Shafira C.
Chery |
Hutan Kota Taman Beringin, Medan |
|
|
2. |
Royahana R.
Rangkuti |
Hutan Kota Taman Bondas, Kota Batu |
|
|
3. |
A. Hisyam
Pulungan |
Hutan Kota Tulungagung |
|
Pembahasan
Berdasarkan tabel 1
diatas, mengenai data hutan kota yang dikunjungi dan dijadikan contoh dalam
praktikum, dapat diketahui bahwa Manda Rizky Abdillah, Anderson Sitorus, Huga
Petrus C. Ginting dan Shafira C. Chery mengunjungi hutan kota yang terletak di
Medan, yakni Hutan Kota Taman Beringin Medan. Royhana R. Rangkuti mengambil
contoh Hutan Kota Taman Bondas Kota Batu dikarenakan tidak adanya hutan kota di
domisili yang bersangkutan. A. Hisyam Pulungan mengambil contoh Hutan Kota
Tulungagung dikarenakan tidak adanya hutan kota di domisili yang bersangkutan.
Hutan kota merupakan komunitas pepohonan yang tumbuh di daerah perkotaan.
Dengan adanya hutan kota, dapat memeberikan berbagai manfaat, khususnya manfaat
ekologi di kawasan perkotaan yang ramai penduduk dan pembangunan. Hal ini
sejalan dengan pernyataan Rahayu (2020) yang menyatakna bahwa, hutan kota adalah suatu komunitas vegetasi yang
berupa pepohonan yang tumbuh di lahan perkotaan atau sekitarnya, berbentuk
jalur, menyebar atau bergerombol (menumpuk) memberikan suatu struktur yang
menyerupai hutan alam, dan membentuk habitat yang memungkinkan adanya kehidupan
bagi satwa.
Hutan kota Taman Beringin Medan beralamatkan di Jalan
Teuku Cik Ditiro, Madras Hulu, Medan Polonia, Kota Medan, Sumatera Utara 20152.
Taman beringin memiliki luas sebesar 12.219 m2 terdapat berbagai jenis tanaman di hutan
kota taman beringin medan diantaranya adalah Matoa (Pometia Pinnata), Mangga (Mangifera
indica), Saga (Adenanhera pavonina),
Sukun (Artocarpus altilis), Beringin
(Ficus benjamina) dll. Selain
jenis-jenis pepohonan disana juga terdapat beberapa jenis palem-paleman dan
juga tanaman hias. Hutan Kota Taman Beringin Medan dilalui oleh sungai Babura
yang bermuara ke pesisir belawan. Selain itu, juga disediakan beberapa
fasilitas diantaranya adalah mushalla, toilet, pendopo, tempat sampah, area
bermain anak dll. Untuk masuk ke Hutan Kota Taman beringin Medan, pengunjung
tidak dipungut biaya tiket masuk dan disekitaran
Hutan Kota Taman
Beringin Medan juga terdapat banyak pedagang yang menjajakan dagangannya. Hal
ini menunjukkan, hutan kota taman beringin medan cocok untuk dijadikan objek
ekowisata dimana tidak hanya berperan pada aspek ekologi, hutan kota taman
beringin medan juga memeberikan manfaat pada aspek ekonomi. Hal ini sejalan
dengan pernyataan Unud (2015) yang menyatakan bahawa ekowisata merupakan bentuk
pariwisata yang memanfaatkan potensi sumberdaya alam, lingkungan serta keunikan
alam dan budaya yang dapat menjadi salah satu sektor unggulan daerah
yang belum dikembangkan secara optimal dan ekowisata juga merupakan kegiatan
wisata alam dengan memperhatikan unsur pendidikan, pemahaman dan dukungan
terhadap usaha-usaha konservasi sumber daya alam, serta peningkatan pendapatan
masyarakat lokal. Secara umum objek
kegiatan ekowisata tidak jauh berbeda dari kegiatan wisata alam biasa, namun
memiliki nilai-nilai moral dan tanggung jawab yang tinggi terhadap objek
wisatanya seperti wisata pemandangan, wisata petualangan, wisata kebudayaan dan
sejarah, wisata penelitian serta wisata sosial, konservasi terhadap lingkungan
dan juga pendidikan.
Taman hutan kota Bondas
terdapat di area kompleks Stadion Gelora
Brantas Kota Batu. Taman ini dulunya merupakan lapangan kosong yang tidak
terawat, Tahun 2011 lapangan bondas ini kemudian disulap menjadi sebuah Taman
Hutan Kota Batu, luas wilayah taman yaitu 12.405,93 hektar. Konsep pengembangan
taman ini yaitu memberikan sarana prasarana untuk jogging track, pijat
refleksi, tempat duduk, dan Taman Baca. Taman ini menyediakan tiga gazebo untuk
beristirahat serta di tengah taman dibuat sebuah monumen yang bertuliskan Kota Wisata
Batu, sebuah logo bertuliskan Shining Batu dengan latar belakang Gunung
Panderman. Kondisi taman di malam hari sangat terang yang dilengkapi
lampu-lampu bundar yang dipasang mengelilingi taman dan ramai pengunjung.
Hutan Kota Tulungagung
terletak di desa Ketanon, Kedungwaru, sekitar tiga kilometer sebelah utara
pusat kota Tulungagung. Hutan kota tulungagung ini memiliki luas sebesar 40.819
m2. Memasuki pintu gerbang Hutan Kota Tulungagung (HUKOTA), kita akan disambut
oleh taman yang asri dengan beragam jenis tumbuhan dengan penamaan identifikasi
dan nama latin masing-masing tanaman. Tanaman hias dan perdu memberikan kesan
hijau dan tenang. Tata ruang taman yang juga dilengkapi dengan sarana bermain
anak (playground) berkonsep warna-warni menawarkan kesan rekreatif yang
meneduhkan. Bagian hutan dari HUKOTA sendiri berada di sudut belakang,
berdampingan dengan lapangan bola. Di hutan ini kerindangan pohon-pohon yang
tinggi menjulang memberikan kesan menyejukkan. Jogging track dibangun
mengelilingi kawasan hutan kecil ini juga tak lupa ada terdapat pula jalanan
dengan batu-batuan yang sengaja ditempel sebagai lintasan refleksiologi.
Dinding yang
mengelilingi kawasan HUKOTA ini pun dipenuhi mural-mural bertemakan sadar
lingkungan yang merupakan buah karya anak-anak Tulungagung. Sebuah kantor
pengelola dan penelitian ditempatkan di sudut lain HUKOTA ini. Hutan yang
berada di tengah kota tentu sangat memberi manfaat untuk masyarakat di
perkotaan mulai dari manfaat estetika yang dapat dijadikan tempan untuk
berswafoto, hingga manfaat pohon yang meneduhkan serta manfaat-manfaat ekologi,
ekonomi dan sosial lainnya. Hal ini sejalan dengan pernyataan Alfian dkk.
(2017) yang menyatakan bahwa manfaat-manfaat yang bisa dirasakan oleh
masyarakat diantaranya : Manfaat Estetika, Lingkungan perkotaan yang banyak
ditumbuhi oleh berbagai tumbuhan tentu akan memberikan nilai keindahan yang
didapat dari hijaunya hutan. Hutan kota yang dibuat dengan beraneka ragam
bentuk tanaman yang berpadu pada suatu pemandangan yang pastinya menyejukkan
dan memanjakan mata. Manfaat Ekologis, Masyarakat akan menikmati lingkungan
yang serasi antara tumbuhan, hewan, dan manusia. Apabila hutan kota memiliki
kondisi yang cukup baik maka banyak burung yang menjadikan hutan ini sebagai
habitat hidupnya, tentu saja hal ini sangat baik untuk keseimbangan eksosistem
di perkotaan.
KESIMPULAN DAN SARAN
Kesimpulan
1.
Hutan kota adalah suatu komunitas vegetasi yang berupa pepohonan yang
tumbuh di lahan perkotaan atau sekitarnya, berbentuk jalur, menyebar atau
bergerombol (menumpuk) memberikan suatu struktur yang menyerupai hutan alam,
dan membentuk habitat yang memungkinkan adanya kehidupan bagi satwa
2.
PP No. 63 tahun
2002 tentang Hutan Kota menyebutkan bahwa fungsi hutan kota antara lain untuk
memperbaiki dan menjaga iklim mikro, meresapkan air, menciptakan keseimbangan
dan keserasian lingkungan fisik kota, dan mendukung pelestarian plasma nutfah.
3.
Hutan Kota yang
dikunjungi dan dijadikan contoh dalam praktikum adalah Hutan Kota Taman
Beringin Medan, Hutan Kota Taman Bondas Kota Batu dan Hutan Kota Tulungagung
4.
Berdasarkan praktikum yang dilakukan, dapat diketahui bahwa selain
memberikan dampak baik untuk lingkungan, hutan kota juga memberikan dampak baik
untuk masyarakat lokal pada aspek ekonomi
5.
Berdasarkan Praktikum yang dilakukan, dapat diketahui bahwa hutan kota
yang dijadikan contoh, cocok untuk menjadi destinasi ekowisata di tempat
masing-masing hutan kota.
Saran
Sebaiknya dalam melakukan praktikum, praktikkan lebih memperhatikan lagi
manfaat-manfaat yang diberikan hutan kota dalam aspek apapun dan lebih bayak
lagi membaca referensi agar memiliki wawasan yang luas.
DAFTAR PUSTAKA
Alfian R, Budiarti T, Nasrullah N. 2017. Pengaruh
Bentuk Hutan Kota Terhadap Kenyamanan Termal di Sekitar Hutan Kota. Buana
Sains, 16 (2):
101-110.
Flamin A, Asnaryati A. 2013. Potensi Ekowisata
dan Strategi Pengembangan Tahura Nipa-Nipa, Kota Kendari, Sulawesi
Tenggara. Jurnal Penelitian Kehutanan Wallacea, 2 (2): 154-168.
Helianto B, Yoza D, Oktorini YO. 2016. Identifikasi Potensi Ekowisata Hutan Kota
Pulau Bungin Kabupaten Kuantan Singingi. JOM
Faperta, 3
(2): 1-10.
Imansari N, Khadiyanta P. 2015. Penyediaan
hutan kota dan taman kota sebagai ruang terbuka hijau (RTH) publik menurut preferensi
masyarakat di kawasan pusat Kota Tangerang. Jurnal Ruang, 1 (3): 101-110.
Juita S, Lumangkun A, Dewantara I. 2016.
Penilaian Ekonomi Jasa Lingkungan Hutan Kota Pada Kawasan Universitas
Tanjungpura Pontianak. Jurnal Hutan Lestari, 4 (3).
Rahayu AA. 2020. Penilaian Ekonomi Hutan Kota
Srengseng Sebagai Penyedia Jasa Lingkungan Berupa Kesejukan. Jurnal
Acitya Ardana, 1 (2):
1-5.
Sahureka M, Lelloltery H, Hitipeuw,JC. 2016.
Implementasi pengembangan ekowisata berbasis masyarakat di hutan lindung gunung
sirimau Kota Ambon. Jurnal Hutan Pulau-pulau Kecil, 1 (2): 128-135.
Syihabuddin A, Darmadi B, Waryono T. 2019.
Analisis Fungsi Jasa Bio-Ekologis Hutan Kota Kawasan Industri. Bumi
Lestari Journal of Environment, 20
(1), 1-7.
Unud. 2015. Studi Kajian Pengembangan Ekowisata dan Jasa Lingkungan. Pusat
Penelitian Lingkungan Hidup. LPPM Universitas Udayana. Denpasar.
Wahyuni U, Wicaksono KP, Ariffin A. 2017. Studi
Hutan Kota Sebagai Penyedia Jasa Lingkungan Pada Musim Hujan Di Kota
Malang. Jurnal Produksi Tanaman, 5 (3).
Waryuni T. 2011. Upaya Pemberdayaan Masyarakat dalam Pelestarian Hutan sebagai Pencegah
Pemanasan Global. UI Press. Depok




Komentar
Posting Komentar